PRINSIP GAWAT DARURAT BAGI TENAGA KESEHATAN DAN UMUM

DEFINISI GAWAT DARURAT

Kita sebagai seorang perawat, terutama untuk seluruh tenaga kesehatan, pasti tidak asing lagi apabila mendengar kata-kata gawat darurat. Pemahaman mengenai arti gawat darurat sangatlah penting untuk menentukan prioritas pelayanan yang bertujuan untuk menentukan tindakan utama pada pasien.

Seorang pasien dikategorikan dalam kondisi gawat apabila pasien tersebut ada dalam kondisi yang dapat menyebabkan kematian serta ancaman jiwa, sedangkan pasien yang dikategorikan dalam kondisi darurat apabila pada pasien tersebut memerlukan pertolongan segera tanpa adanya ancaman jiwa.

 http://4.bp.blogspot.com/-fMZ2qL5xkPs/U4QmBHYvTEI/AAAAAAAAB0w/ba8cfBaYGTU/s1600/emergency-721767.jpg

Pasien yang berada dalam kondisi gawat memerlukan pertolongan segera, tetapi pasien yang memerlukan pertolongan segera belum tentu mengalami ancaman kematian. Hal ini mengartikan bahwa pasien yang gawat sudah pasti darurat, tetapi pasien darurat belum tentu gawat.

Pertolongan gawat darurat dilakukan secara cepat, tepat dan cermat. Cepat artinya tidak ragu-ragu, tepat artinya pertolongan harus menyelesaikan masalah utama dan cermat artinya pertolongan harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati.


FILOSOFI DASAR PPGD

  • Pemahaman Gawat dan Darurat bersifat Universal, artinya dimanapun berada, Gawat dan Darurat memiliki pengertian yang sama.
  • Kondisi gawat darurat dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, karena itu pertolongan pertama biasanya diberikan oleh siapa saja yang berada di lokasi kejadian.
  • Pada keadaan gawat darurat maka pertolongan diberikan berdasarkan masalah yang ditemukan pada pasien.
  • Pertolongan gawat darurat diberikan berdasarkan pada tingkat kegawatan pasien dan tidak memandang status sosial, agama, ekonomi dan ras.

ASSESSMENT

Penilaian kegawatdaruratan bisa dilakukan dalam dua tahap yaitu:


PRIMARY SURVEY

Sering disebut juga Primary Assessment atau penilaian awal. Pemeriksaan tahap awal ini difokuskan pada adanya ancaman jiwa yang disebabkan oleh gangguan jalan nafas (Airway), gangguan pernafasan (Breathing) dan gangguan sirkulasi (Circulating) dengan bantuan alat ataupun tanpa bantuan alat dengan melakukan maneuver LOOK, LISTEN and FEEL.

http://4.bp.blogspot.com/-2Ykl_3cNqJs/UAI9JzzDhcI/AAAAAAAAAJc/j0WJ1WGLlF8/s1600/abc.jpg
Maniver Look, Listen and Feel
LOOK dengan pemeriksaan melihat kesadaran pasien, gerakan dinding dada, pernafasan cuping hidung, retraksi dinding dada, warna kulit (pucat, sianosis, flushing)

LISTEN dengan pemeriksaan mendengar adanya suara nafas pasien, ada tidaknya suara nafas tambahan yang menandakan sumbatan partial jalan nafas.

FEEL dengan pemeriksaan merasakan adanya hembusan udara pernafasan dari hidung dan atau mulut pasien, sekaligus meraba denyut nadi karotis pasien yang menandakan adanya gangguan sirkulasi atau tidak.

Ketiga maneuver tersebut dilakukan kurang dari 10 detik.


SECONDARY SURVEY

Sering disebut Secondary Assessment atau Penilaian Lanjutan atau Penilaian Kedua. Pada pemeriksaan lanjutan ini dilakukan pemeriksaan ulang terhadap ancaman kematian segera (Airway, Breathing dan Circulating) dapat menggunakan alat bantu apabila tersedia, misalnya stetoskop, EKG, Rontgen dll. Dilakukan juga pemeriksaan head to toe sehingga tidak ada yang terlewatkan.


TRIAGE

Triage merupakan tindakan melakukan seleksi atau memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatdaruratannya untuk memberikan prioritas pelayanan/tindakan. Triage ini dibagi menjadi 4 kode warna yaitu.

MERAH yaitu GAWAT DARURAT, pasien dengan ancaman kematian karena adanya gangguan Airway, Breathing, Circulation dan Haemodinamik. (P1 = PRIORITAS PELAYANAN KE 1)

KUNING yaitu DARURAT TIDAK GAWAT, pasien tidak ada ancaman kematian segera, tetapi ada ancaman kecacatan karena adanya gangguan hemodinamik. (P2 = PRIORITAS ANCAMAN KE 2)

HIJAU yaitu TIDAK GAWAT, TIDAK DARURAT. (P3 = PRIORITAS PELAYANAN KE 3)

HITAM yaitu MENINGGAL (P4 = PRIORITAS PELAYANAN KE 4)


DEFINISI MATI 

Mati dibedakan menjadi dua yaitu:

Mati Klinis, ditandai dengan otak kekurangan oksigen dalam waktu 6 – 8 menit, terjadi gangguan fungsi sel, sifatnya reversible. Hal yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini adalah melakukan RJP dan pemeriksaan pupil untuk memastikan kematian pasien.

Mati Biologis, ditandai dengan kekurangan oksigen lebih dari 8 – 10 menit, terjadi kerusakan sel otak, sifatnya irreversible. Hal yang dilakukan sebagai tenaga kesehatan adalah memberikn inform consent kepada keluarga pasien.

Keduanya dapat dibedakan dengan melakukan pemeriksaan reflex cahaya pada pupil. Pada mati klinis karena otak masih berfungsi, maka ketika mendapatkan rangsang cahaya, pupil akan mengecil atau reflex cahaya positif. Sementara  pada mati biologis karena sudah terjadi kerusakan otak yang permanen maka ketika mendapat rangsang cahaya pupil tidak akan mengecil ataupun membesar lagi (dilatasi maksimal), dikatakan reflex cahaya negatif.



Baca Juga :



Sumber : PPGD Basic 1




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.