ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

Pengertian Benigna Prostatic Hyperplasia

Secara umum Benigna Proctatic Hyperplasia (BPH) dikenal dengan sebutan “hypertropic prostat” atau lebih tepatnya lagi disebut “hyperplasia atau adenoma prostat” merupakan suatu pembesaran dari kelenjar prostat yang disebabkan oleh bertambahnya sel-sel galanduler dan interstisial”. Menurut referensi lain Benigna Prostatic Hyperplasia merupakan kondisi dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang keatas dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretra.

Insiden Benigna Prostatic Hyperplasia

Umumnya penyakit BPH ini dialami oleh pria diatas 50 tahun, tetapi dapat juga ditemukan sekitar 70% pria usia diatas 60 tahun dan jarang memberikan gejala-gejala prostatisme.

Etiologi dan Patofisiologi

Penyebab tumor jinak ini belum diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan berhubungan dengan bertambahnya estrogen yang beredar dibanding dengan turunnya produksi testoteron, ciri khas klimakterium virile. Akibatnya bagian tengah prostat yang peka terhadap estrogen mengalami pembesaran.
 
Apabila terjadi hyperplasia prostat maka akan terjadi penyempitan uretra pars prostatika yang mengakibatkan penderita harus berkemih melawan tekanan uretra yang lebih tinggi. Tekanan yang lebih tinggi ini berhubungan dengan hyperplasia otot-otot kandung kemih dengan trabekulasi atau penebalan kandung kemih. Jika obstruksi kandung kemih meningkat dan masih terdapat sisa urin maka penderita bisa mengalami infeksi saluran kemih atau bisa terjadi peningkatan tekanan kandung kemih dan penebalan otot kandung kemih yang mengakibatkan ujung distal ureter terdesak keatas lalu terjadi bendungan ureter dan berujung uremia.
Benigna Prostatic Hiperplasia

Perubahan yang Terjadi Akibat Benigna Prostatic Hyperplasia

Perubahan Sekunder Kandung Kemih

Stadium dini, kompensasi terhadap penyumbatan berupa penebalan dinding kandung kemih menyebabkan sukar untuk berkemih, yang mengakibatkan penderita harus mengedan karena urin yang keluar hanya menetes dan pancaran lemah. Tabekulasi dan divertikulasi menyebabkan hypertropi trigonum dan inter uteri ridge sehingga terjadi refluk urin ke ureter yang mengakibatkan infeksi saluran kemih.
 
Stadium lanjut, terjadi dekompensasi kandung kemih dimana sisa urin bertambah dan terjadi kelumpuhan otot destrusor kandung kemih dan spingter uretra sehingga dapat terjadi inkontinensia urine atau menetes secara periodik.

Perubahan pada Ureter dan Ginjal.

Adanya hypertropi trigonum inter uteric ridge mengakibatkan peningkatan tekanan intra vesikal, dimana urin sisa bertambah sehingga refluk urin ke ureter dan terjadi bendungan. Hal ini bisa berakibat terjadinya uretero hidroneprosis dengan penderita mengalami renal failure dan uremia.

Infeksi

Terjadi infeksi pada saluran kemih diakibatkan karena urine sisa pada kandung kemih yang berakibat cystitis, ureteritis dan pylonefritis.

Gambaran Klinik

Empat macam derajat benigna prostatic hyperplasia atau pembesaran kelenjar prostat, dimana derajat rectal digunakan sebagai ukuran daripada pembesaran kelenjar prostat ke arah rectum.
  • Derajat 0 pembesaran 0 – 1 cm
  • Derajat I pembesaran 1 – 2 cm
  • Derajat II pembesaran 2 – 3 cm
  • Derajat III pembesaran 3 – 4 cm
  • Derajat IV pembesaran 4 – 5 cm
Rectal toucher normal dirasakan apabila batas atas teraba, konsistensi elastis, dapat digerakkan, tidak nyeri tekan dan permukaan rata. Pada penderita yang mengalami benigna prostatic hyperplasia maka pada saat dilakukan rectal toucher akan dirasakan batas atas teraba menonjol > 1 cm, dengan berat > 35 gr.

Derajat klinik berdasarkan residual urin bisa dilakukan dengan cara klien diminta untuk miksi sampai puas, setelah selesai selanjutnya dikategorikan untuk mengetahui sisa urin
  • Normal bila 0
  • Derajat I bila 0 – 50 ml
  • Derajat II bila 50 – 100 ml
  • Derajat III bila 100 – 150 ml
  • Derajat IV bila retensio urin total, merasa kesakitan akibat kandung kemih penuh dan overflow inkontinensia.

Jika dikategorikan menurut derajat intra uretral menggunakan panendoscopy, dapat dilihat seberapa jauh lobus lateralis menonjol keluar lumen uretra. Gejala hypertropi prostat pada setiap stadium :
  • Stadium I, mengeluh sudah beberapa bulan urin tidak lampias, pancaran lemah, harus mengedan, ada nocturia tetapi belum ada sisa urin.
  • Stadium II, sisa urin ada, dapat terjadi cystitis, nocturia bertambah, kadang hematuria, kandung kemih tebal (trabekulasi) atau hypertropi.
  • Stadium III, urin sisa 50 – 150 ml, kemungkinan infeksi, dapat ditandai dengan hipertermia, menggigil dan nyeri daerah pinggang, serta kemungkinan telah terjadi pyelitis, trabekulasi bertambah.
  • Stadium IV, telah terjadi retensio urin.

Pemeriksaan

Fisik

  1. Fokus pada pemeriksaan rectal toucher dengan memerhatikan sebelumnya kandung kemih dalam keadaan kosong, spingter ani masih dapat menjepit jari, tonus baik, mukosa licin dan dapat digerakkan dari dasar. Posisi dapat menungging, berbaring, berbaring menyamping, berdiri membungkuk.
  2. Gambaran BPH berupa prostat membesar, kenyal, tidak nyeri, batasnya jelas, hilangnya sulkus di tengah dan dapat di geser dari rektum.
  3. Pemeriksaan abdomen dengan melihat apakah adanya kelainan pada hypogastrik atau suprapubik, adanya benjolan, teraba masa, adanya nyeri tekan, kandung kemih penuh dan lakukan pengukuran residual urin.

Pemeriksaan Laboratorium

Dilakukan pemeriksaan Phenol Sulfo Phtalein (PSP) test untuk mengetahui fungsi ginjal. Normal PSP sekitar 50% PSP dikeluarkan. Jika hanya 25% kemungkinan ada residu urin atau fungsi ginjal menurun.

Pemeriksaan Radiologi

  • BNO dapat ditemukan adanya komplikasi terutama vesikolithiasis.
  • Pemeriksaan Cystoscopy atau Panendoscopy, tindakan ini dilakukan untuk mengetahui derajat pembesaran dan adanya perubahan dinding kandung kemih.

Penatalaksanaan

Tergantung pada penyebab, keparahan obstruksi dan kondisi pasien
  1. Kateterisasi, jika kondisi darurat dan tidak bisa berkemih. Jika sulit memakai kateter biasa dapat menggunakan stylet yang dimasukkan kedalam kateter (dilakukan oleh ahli urologi) atau menggunakan kateter logam. Kadang-kadang perlu cystotomy suprapubik untuk drainage.
  2. Prostatektomi
  3. Watch full waiting adalah pengobatan yang sesuai bagi banyak pasien karena kecenderungan progresif penyakit atau terjadinya komplikasi yang tidak diketahui. Pasien dipantau secara periodik terhadap keparahan gejala, temuan fisik, pemeriksaan laboratorium dan uji urologi dianostik.
  4. Insisi prostat transurethral (TUIP)
  5. Dilatasi balon
  6. Penyekat alfa misalnya terazosin, melemaskan otot halus kolum kandung kemih dan prostat.
  7. Inhibitor reduktase, seperti finasteride (proscar) mencegah perubahan testoteron menjadi hidrotestoteron, sehingga terjadi penurunan hidrotestoteron yang mensuplai aktivitas sel-sel glandular dan penurunan ukuran prostat. Efek sampingnya ginekomastia, disfungsi erektil dan wajah kemerahan.

Proses Keperawatan

Pengkajian Benigna Prostatic Hyperplasia

Lakukan Observasi

Hesistensi pada saat mulai miksi, kekuatan dan ukuran aliran urin berkurang, ada residul urin, urgency, nokturia, dysuria, hematuria, nyeri pinggang atau panggul, retensi urin akut, UTI, prostat membesar.

Pemeriksaan Diagnostik.

Urinalisa, urin kultur, sensitive test, serum kreatinin, BUN serum, cystoscopy, radiologi.

Diagnosa Keperawatan Benigna Prostatic Hyperplasia Pre-Operasi

  1. Gangguan pola eliminasi urine : obstruksi, inkontinensia b/d pembesaran kelenjar prostat, iritasi kandung kemih, kelemahan otot detrusor.
  2. Nyeri b/d iritasi kandung kemih, pergeseran batu, obstruksi aliran urin
  3. Resiko tinggi infeksi b/d pajanan batu, statis urin, penurunan sistem kekebalan.
  4. Cemas b/d prosedur pelaksanaan TURP, prognosa penyakit.
  5. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan informasi, kemampuan proses belajar.

Prinsip Penatalaksanaan Benigna Prostatic Hyperplasia

  1. Pantau tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, tanda uremia.
  2. Pantau jumlah urin, warna dan kekeruhan serta status hidrasi.
  3. Hindari minuman banyak seketika juga yang bersifat diuretik seperti kopi, teh dan cola.
  4. Cek fungsi ginjal, fungsi hati, fungsi paru dan nutrisi untuk persiapan tindakan operasi.
  5. Pasang kateter, perhatikan intruksi dokter, jika ada riwayat perdarahan, tahanan dalam memasukan kateter, jangan dipaksakan. Gunakan jelly satu tube penuh.
  6. Berikan penjelasan yang singkat dan akurat tentang penyakitnya secara bertahap..
  7. Analgetik dan teknik relaksasi untuk menurunkan nyeri.
  8. Perbaikan nutrisi, jika perlu, sesuaikan dengan fungsi ginjal.
  9. Libatkan pasien/keluarga dalam perawatan.

Intervensi

Tujuan : Klien dapat mengeluarkan urinnya secara komplit.

  1. Menjaga privacy klien
  2. Atur posisi yang nyaman
  3. Beri rangsangan berkemih seperti menyalakan keran air, kompres hangat pada supra pubis.
  4. Bantu untuk latihan relaksasi
  5. Anjurkan untuk BAK setiap 2 – 4 jam dan segera BAK jika ada keinginan untuk berkemih.
  6. Hindari minuman yang mengandung alcohol.
  7. Lakukan kateterisasi setelah BAK laporkan hasilnya.
  8. Monitor BUN dan kreatinin.

Tujuan : Infeksi tidak terjadi

  1. Monitor suhu tubuh setiap 4 jam dan laporkan bila suhu lebih dari 38,50C
  2. Observasi karakteristik urin dan laporkan jika urin berkabut dan bau busuk
  3. Pertahankan kelancaram urin dan kebersihan meatus uretra.
  4. Monitor dan laporkan bila adanya gejala-gejala : UTI
  5. Anjurkan untuk mobilisasi selama tidak ada kontraindikasi.
  6. Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai order.

Tujuan : Nyeri berkurang

  1. Observasi sifat, intensitas, lokasi, durasi, faktor pencetus dan cara mengurangi nyeri.
  2. Anjurkan klien untuk bedrest, lakukan aktivitas yang dapat ditolelir.
  3. Posisikan pasien dengan nyaman
  4. Berikan sit bath dan rendam perineum dengan air hangat.
  5. Lakukan teknik distraksi, relaksasi.
  6. Anjurkan banyak minum bila tidak ada kontraindikasi.
  7. Kolaborasi pemberian analgetik
  8. Observasi TTV.

Tujuan : meningkatkan pengetahuan.

  1. Anjurkan banyak minum jika tidak ada kontraindikasi
  2. Anjurkan untuk tidak membiarkan kandung kemihnya penuh.
  3. Ajarkan dan anjurkan melapor jika ada tanda dan gejala tidak bisa BAK, UTI, retensi urin.
  4. Anjurkan klien untuk tetap aktif dan mobilisasi jika tidak ada kontraindikasi.
  5. Anjurkan untuk menghindari suhu yang dingin.
  6. Ajarkan cara pemberian obat : nama, dosis dan jadwal, tujuan dan efek samping.
  7. Ajarkan perlunya perawatan lanjutan setelah pulang dari RS dan follow up.

Diagnosa Keperawatan Benigna Prostatic Hyperplasia Post-Operasi

  1. Resiko tinggi perdarahan b/d reseksi bladder, kelainan profil darah
  2. Resiko obstruksi aliran urin b/d penimbunan kloting darah dalam kandung kemih
  3. Nyeri b/d inflamasi kandung kemih, pemasangan kateter, obstruksi urin
  4. Resiko infeksi b/d kerusakan barrier primes, irigasi, kateter, penurunan tingkat imunitas primer.
  5. Cemas

Nursing Care Plan Post Prostatectomy

Nyeri b/d incise surgical

Intervensi :
  1. Observasi nyeri
  2. Pertahankan kelancaran kateter dan suprapubik tube
  3. Kaji daerah incise : kemerahan, drainage dan tenderness
  4. Posisikan senyaman mungkin.
  5. Ajarkan teknik relaksasi
  6. Ciptakan lingkungan yang nyaman
  7. Kolaborasi pemberian antispasmodic
  8. Observasi TTV
  9. Lakukan irigasi uretral sampai urin jernih, 24 jam pertama terus menerus selanjutnya sesuai kebutuhan.

Gangguan pola eliminasi urin b/d hematuria, retensi urin

Intervensi :
  1. Catat output urin dan lapor bila ada darah terus menerus.
  2. Lakukan spoeling terus menerus selama 24 jam sampai urin jernih, selanjutnya intermintten : cairan steril, pertahankan teknik steril, aliran 40 – 60 tts/mnt
  3. Pertahankan kateter 1 – 5 hari sesuai order
  4. Ukur dan catat output urin
  5. Anjurkan untuk miksi setiap 2 – 3 jam
  6. Bantu dalam merubah posisi.

Resiko infeksi b/d penurunan daya tahan tubuh, luka incise, terpasang kateter

Intervensi :
  1. Observasi suhu tubuh setiap 4 jam
  2. Observasi adanya tanda-tanda infeksi
  3. Pertahankan kelancaran aliran urin
  4. Monitor dan laporkan adanya UTI
  5. Kolaborasi pemberian antibiotic
  6. Lakukan perawatan luka setelah tiga hari post op kecuali jika peradarahan dan kotor.

Resiko terjadinya penurun CO b/d perdarahan

Intervensi :
  1. Observasi adanya tanda-tanda perdarahan dan penurunan CO
  2. Observasi output urin akan adanya perdarahan
  3. Observasi adanya penurunan perfusi perifer.
  4. Kolaborasi untuk periksa Hb, HT, jika perlu pasang CVP.

Kurang pengetahuan tentang perawatan post operasi b/d kurang informasi

Intervensi :
  1. Anjurkan kepada klien untuk tidak duduk terlalu lama, tidak minum alcohol dan menjaga kebersihan diri.
  2. Ajarkan latihan perineum terutama setelah kateter diangkat.
  3. Ajarkan perawatan luka
  4. Instruksikan untuk mencegah konstipasi
  5. Ajarkan minum obat sesuai jadwal, dosis dan jenis.



Tidak ada komentar:

ads
Diberdayakan oleh Blogger.