LAPORAN PENDAHULUAN ASMA BRONKHIALE

Pengertian

Asma bronkhiale merupakan suatu penyakit dengan meningkatnya respon trakea, bronkus dan bronkiolus terminalis yang reversible terhadap berbagai rangsangan yang terjadi dimana ventilasi relative normal, hal ini ditandai dengan penyempitan saluran pernapasan secara umum.
Asma Bronkhiale

Anatomi Fisiologis

Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveoli dan alveolus. Trakea disokong oleh tulang rawan yang berebentuk sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inchi. Tempat trakea bercabang menjadi bronkus disebut karina yang memiliki banyak syaraf yang dapat menyebabkan “bronkospasme”.

Bronkus kiri lebih panjang dan sempit merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang tajam. Cabang utama bronkus segmentalis yang semakin kecil sampai dengan bronkus terminalis memiliki diameter 1 mm. bronkiolus dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Setelah bronkiolus terminalis terdapat sinus yang merupakan unit fungsional paru-paru yaitu tempat pertukaran gas yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveoris, sakus alveolaris terminalis. Asinus atau lobulus primer memiliki garis tengah kira-kira o,5 sampai 1,0 cm. terdapat sekitar 23 kali percabangan mulai trakea sampai sakus alveolaris terminalis.

Asma Bronkhiale

Kategori Asma Bronkhiale

Terbagi menjadi 3 kategori yaitu:
  1. Asma Ekstrinsik, ditemukan pada sejumlah kecil klien dewasa yang disebabkan oleh allergen yang diketahui. Biasa dimulai pada masa anak-anak dengan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit atopic.
  2. Asma Instrinsik atau Idiopatik, sering ditemukan faktor-faktor pencetus yang tidak jelas, faktor yang non spesifik atau flu biasa, latihan fisik yang berlebihan atau emosional. Sering timbul sesudah usia 40 tahun.
  3. Asma Campuran, kebanyakan klien dengan asma instrinsik akan berlanjut menjadi bentuk campuran. Anak-anak yang menderita asma ekstrinsik sering sembuh pada saat dewasa.
Pembagian asma menurut SCOGGIA, yaitu:
  1. Asma akut intermitten diluar serangan tidak ada gejala
  2. Asma akut dan status asmatikus
  3. Asma kronik

Patofisiologi

Pada asma bronkhiale terjadi perubahan patologis yang menyebabkan obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh bronkospasme, edema mukosa dan hiperskresa mucus yang kental. Pada klien dengan riwayat asma terjadi hipersensitif saluran napas terhadap allergen. Bila allergen ada pada klien, maka akan terjadi reaksi tipe 1 yang ditandai dengan histamine, ECF-A dan SRS-A oleh sel mast yang merupakan vasodilator yang kuat, yang mengakibatkan sel otot pernapasan berkontraksi, sekresi mucus meningkat dan terjadi edema mukosa. Hal tersebut menyebabkan terjadi penyempitan jalan napas sehingga O2 yang masuk ke dalam tubuh tidak adekuat dan tubuh berkompensasi denga napas menjadi lebih cepat dan dangkal, terjadi dispnoe dan klien akan menggunakan otot-otot asesoris pernapasan (cuping hidung, retraksi dada), aktvitas meningkat menyebabkan meningkatnya proses metabolism yang berakibat kelelahan dan kelemahan.
Pathway Asma Bronkhiale
Bila terjadi status asmatikus akan terjadi hipoksia dan hiperkapnia serta asidosis respiratorik akibat dari adanya penyempitan pada saluran pernapasan dan bronkospasme, udara akan dikeluarkan secara paksa dan pada auskultasi akan terdengar bunyi wheezing, ekspirasi memanjang sedangkan pergerakan secret yang terakumulasi akan menimbulkan ronchi. Permukanaan epitel yang diliputi oleh lapisan mucus yang disekresikan oleh sel goblet dan serosa akan berusaha untuk mengeluarkan mucus dengan cara gerakan sillia ke arah posterior menuju ke faring. Bila osbtriksi berlangsung maka alveoli akan mengalami pembesaran akibatnya pertukaran gas di alveoli terganggu sehingga O2 berdifusi ke dalam darah berkurang maka O2 dalam darah menurun dan bila sampai ke jaringan akan kekurangan O2, bila kekurangan O2 ke otak akan terjadi gelisah, kebingungan sampai somnolen. Bila udara terperangkap di alveoli dalam waktu lama maka akan terjadi peningkatan CO2 lebih dari normal dan akan tampak pada pemeriksaan AGD (Analisa Gas Darah).
Pada saat terjadi kegagalan proses difusi maka kompensasi tubuh adalah dengan peningkatan aliran darah sehingga akan terjadi peningkatan nadi, terdapat pulsus paradoksus, pada gambaran EKG akan tampak takikardi.
Pada kulit akan terjadi cyanosis, penurunan O2 dalam darah akan merangsang nervus vagus mengeluarkan asetilkolin, merangsang lambung untuk meningkatkan asam lambung maka mengakibatkan gangguan pada proses metabolism sehingga pembentukan energy berkurang mengakibatkan kelemahan.

Etiologi/Faktor Pencetus Asma

  1. Faktor allergen
  2. Faktor obat-obatan
  3. Infeksi saluran atas
  4. Faktor emosi
  5. Faktor perubahan cuaca
  6. Latihan jasmani yang berlebihan
  7. Faktor heriditer memegang peranan penting

Dampak Asma Bronkhiale terhadap Sistem Tubuh

  • Sistem Pernapasan, penyempitan seluran napas mengakibatkan napas cepat dan dangkal, takipnoe dan dyspnoe serta penggunaan otot-otot asesoris. Akumulasi secret dapat menyebabkan batuk
  • Sistem Gastrointestinal, dengan adanya penurunan kadar O2 dalam darah merangsang nervus vagus untuk mengeluarkan asetil kolin, merangsang lambung, sekresi asam lambung meningkat maka akan terjadi mual.
  • Sistem Kardiovaskuler, tidak adekuatnya kadar O2 dalam darah yang masuk ke dalam jantung menyebabkan takikardi, tekanan darah menurun.
  • Sistem Muskuloskeletal, menurunnya kadar O2, supply O2 ke jaringan berkurang sehingga metabolism tidak adekuat, pembentukan energy berkurang, klien lelah dan lemah.
  • Sistem Persyarafan, tidak adekuatnya kadar O2 ke otak akan menyebabkan gelisah, bingung sempai somnolen. Bila sesak dan batuk akan merangsang RAS (reticulo activity system) sehingga terjaga dan terjadi gangguan tidur.

Manajemen Medik Secara Umum

  1. Pemberian obat-obatan seperti epineprin (adrenalin), aminophilin, kortikosteroid
  2. Nebulasi – aerosol 
  3. Ventilasi mekanik
  4. Bronkhoskopi
  5. Fisiotherapi
  6. Latihan nafas dalam
  7. Batuk efektif
  8. Purslip breathing


No comments:

Powered by Blogger.