PERINGATAN HARI GIZI NASIONAL KE-58, TAHUN 2018

Dalam memperingati Hari Gizi Nasional yang ke 58, tepatnya pada tanggal 25 Januari 2018, pemerintah masih mencanangkan tema Hari Gizi Nasional yaitu “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dan di tahun 2018 ini mengangkat sub tema “Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 100 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Mencegah Stunting”. Selain tema tersebut pemerintah juga memiliki slogan dalam memperingati Hari Gizi Nasional ke 58 ini berupa “Bersama Keluarga Kita Jaga 1000 Hari Pertama Kehidupan”
 
Indonesia sendiri saat ini masih menghadapi permasalahan gizi yang dapat berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Permasalahan gizi tersebut lebih terfokus pada kegagalan pertumbuhan pada awal kehidupan seperti berat badan lahir rendah, pendek, kurus dan gemuk, yang akan berdampak pada pertumbuhan anak selanjutnya, seperti hambatan kognitif dan kegagalan pendidikan.
 
Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 diketahui bahwa prevalensi balita stunting dan kurus masih tinggi, yaitu balita stunting sebanyak 37,2% dan balita kurus 12,1%. Selain itu, prevalensi ibu hamil resiko Kurang Energi Kronis (KEK) juga masih tinggi yaitu (24,2%). Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 menunjukkan prevalensi balita pendek 29,0 %, balita gizi kurang 17,8% dan balita kurus 11,1%, sedangkan ibu hamil dengan resiko KEK sebesar 16,2%.
 
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka salah satu prioritas pembangunan kesehatan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015 – 2019 adalah perbaikan gizi, khususnya stunting. Mungkin istilah stunting masih terdengar asing di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting umumnya terjadi saat mulai janin masih dalam kandungan dan akan berdampak pada anak berusia dua tahun.
 

Hari Gizi Nasional ke 58, Tanggal 25 Januari

Penyebab Stunting

Penyebab stunting yang utama adalah faktor gizi buruk sejak dalam kandungan serta asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Akantetapi, penyebab lain dari stunting bisa terjadi secara multi dimensi seperti praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan serta setelah ibu melahirkan, masih terbatasnya layanan kesehatan Ante Natal Care (ANC) dan Post Natal Care, serta masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi.

Dampak Stunting Pada Anak

Dikutip dari intisarionline.com, menurut Dr. dr Damayanti R. Sjarif, Sp. A(K), stunting pada anak di bawah tiga tahun atau pada 1.000 hari pertama sulit untuk diperbaiki. Namun, ada harapan bisa diperbaiki ketika masa pubertas, tergantung bagaimana orangtua memaksimalkan asupan nutrisinya.
 
Anak yang mengalami stunting merupakan indikasi kurangnya asupan gizi yang berdampak kondisi anak memiliki tinggi badan yang cenderung pendek pada usianya. Dalam jangka pendek pada masa anak-anak, perkembangan menjadi terhambat, penurunan fungis kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh dan gangguan sistem pembakaran, sedangkan dalam jangka panjang berdampak pada saat dewasa berupa timbulnya resiko penyakit degenerative, seperti diabetes mellitus, jantung coroner dan obesitas.

Intervensi Stunting di Indonesia

Dilansir dari manjilala.info, pada tahun 2010, Scaling-Up Nutrition sebagai gerakan global penanganan gizi mencanangkan prinsip bahwa semua penduduk berhak untuk  memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Pemerintah Indonesia yang telah tergabung dalam gerakan global Scaling-Up Nutrition, memiliki kerangka intervensi stunting yang terbagi menjadi dua, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif.
 
Kerangka Intervensi Gizi Spesifik ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 100 Hari Pertama Kelahiran (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Intervensi ini bersifat jangka pendek, yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita. Sementara, Kerangka Gizi Sensitif ini merupakan intervensi yang dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% penurunan stunting. Ada 12 kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif ini yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementrian dan Lembaga, yaitu :
  1. Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih
  2. Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi
  3. Melakukan fortifikasi bahan pangan
  4. Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB)
  5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
  6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal)
  7. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua
  8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal
  9. Memberikan pendidikan gizi masyarakat
  10. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja
  11. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin
  12. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

Cara Mencegah Stunting

Membangun kemandirian keluarga merupakan salah satu langkah efektif untuk mencegah stunting pada anak, dan salah satu kriteria keluarga mandiri yang bisa menjadi acuan adalah menerima petugas perawatan kesehatan serta menerima pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan. Puskesmas sebagai unit kesehatan fungsional harus bisa menjadi pusat penyadaran dan pengembangan kesehatan keluarga berkelanjutan, terutama masalah stunting. Beberapa tips untuk mencegah stunting, diantaranya :
  • Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi atau Fe), dan terpantau kesehatannya. Namun, kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Padahal mereka harus minimal konsumsi 90 tablet selama kehamilan.
  • ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
  • Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.
  • Sangat dianjurkan ketika bayi berusia tiga tahun atau anak sudah dapat makan, dianjurkan mengkonsumsi 13 gram protein yang mengandung asam amino esensial setiap hari, yang didapat dari sumber hewani, yaitu daging sapi, ayam, ikan, telur dan susu.
  • Rajin mengukur tinggi badan dan berat badan anak setiap kali memeriksa kesehatan di Posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
Semoga dalam memperingati Hari Gizi Nasional ke 58 ini, anak-anak Indonesia terhindar dari stunting, karena gizi merupakan investasi bangsa, serta dengan memperingati Hari Gizi Nasional ke 58 ini juga kita bisa menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen untuk membangun gizi menuju bangsa sehat dan berprestasi melalui kemandirian keluarga.



Referensi :
Panduan Kegiatan Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 Tahun 2018, Kemenkes RI
intisarionline.com
dinkes.inhukab.go.id
manjilala.info

Tidak ada komentar:

ads
Diberdayakan oleh Blogger.