KONSEP BANTUAN HIDUP DASAR

Bantuan hidup dasar atau sering kita singkat BHD merupakan sebuah fondasi utama yang dilakukan untuk menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung. Keadaan henti jantung ini menjadi salah satu penyebab tertinggi kasus kematian di berbagai belahan dunia. Henti jantung bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan disebabkan oleh berbagai macam hal juga kondisi serta lingkungan yang beragam. Berdasarkan WHO tahun 2005, terdapat 17,5 juta kasus di dunia yang meninggal dikarenakan penyakit jantung dan pembuluh darah. Salah satu penyebab kematian akibat penyakit jantung adalah henti jantung atau cardiac arrest.

Dengan beberapa alasan tersebut, pengetahuan BHD sangat diperlukan baik untuk orang awam ataupun tenaga medis untuk mengantisipasi kejadian tersebut. BHD yang kita ketahui terdiri dari identifikasi henti jantung dan aktivasi Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu, Resusitasi Jantung Paru (RJP) dini, dan kejut jantung menggunakan Automated External Defibrilator (AED) atau alat kejut jantung otomatis.

Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah serangkaian tindakan penyelamatan jiwa untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup. Inti dari RJP yang optimal adalah bagaimana cara memberikan RJP sedini mungkin dan seefektif mungkin. Pemberian bantuan hidup dasar sangat diperlukan pada klien yang sedang mengalami kegawatdaruratan.

 

HENTI NAFAS

Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan pada korban gawat darurat. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan bantuan hidup dasar. Henti nafas dapat terjadi pada keadaan:
  • Sumbatan jalan nafas, bisa dikarenakan benda asing, aspirasi, pangkal lidah jatuh, pipa tracheal terlipat, kanula trachea tersumbat, kelainan akut glottis dan sekitarnya (sembab glottis, perdarahan)
  • Depersi pernapasan, bisa berupa sentral yang diakibatkan oleh obat-obatan, intoksikasi, PaO2 rendah, PaCO2 tinggi, setelah henti jantung, tumor otak, tenggelam dan juga bisa berupa perifer yang diakibatkan oleh obat pelumpuh otot, penyakit vmiastenia gravis.
Pada awal henti nafas, oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya. Jika pada keadaan ini diberikan bantuan pernafasan maka sangat bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.

 

HENTI JANTUNG

Pada saat terjadi henti jantung secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu, misalnya tersengal-sengal merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung dapat disebabkan oleh: penyakit kardiovaskoler, kekurangan oksigen akut, kelebihan dosis obat, gangguan asam basa/elektrolit, kecelakaan, reflek vagal, anastesia, pembedahan dan syok.

Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi dan memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui resusitasi jantung paru.

Sesuai dengan rantai keselamatan, ketika pertama kali melihat korban, hal tang harus dilakukan adalah memastikan/mengetahui apakah korban mengalami henti jantung atau tidak. Setelah mengenali tanda-tanda, penolong secepatnya mengaktifkan SPGDT, dan meminta alat kejut jantung otomatis (AED) dan segera lakukan RJP denga awalnya berupa penekanan dada. Lalu jika alat kejut jantung otomatis (AED) datang, segera pasangkan pada korban untuk melakukan kejut jantung jika terdeteksi perlu kejut jantung.

"Baca Juga : Langkah-langkah BHD pada Anak dan Bayi"
 
Berikut penjelasan mengenai secara mendetail mengenai bantuan hidup dasar dengan melakukan resusitasi jantung paru.

 

Identifikasi Korban Henti Jantung dan Aktivasi SPGDT Segera

Sebelum melakukan tindakan, pertama penolong harus mengamankan lingkungan sekitar dan diri sendiri serta memperkenalkan diri pada orang sekitar jika ada. Bersamaan dengan itu, penolong juga perlu memeriksa, pernapasan korban, jika korban tidak sadarkan diri dan bernapas secara abnormal (terengah-engah), penolong harus mengasumsikan korban mengalami henti jantung. Penolong harus dapat memastikan korban tidak responsive dengan cara memanggil korban dengan jelas, lalu menepuk-nepuk korban atau menggoyangkan bahu korban.
Cek respon korban
Jika korban tidak memberikan respon maka penolong harus segera mengaktifkan SPGDT dengan menelepon Ambulan Gawat Darurat 118 Dinas Kesehatan DKI Jakarta, atau nomor 021-65303118, atau ambulans rumah sakit terdekat. Ketika mengaktifkan SPGDT, penolong harus siap dengan jawaban mengenai lokasi kejadian, kejadian yang sedang terjadi, jumlah korban dan bantuan yang dibutuhkan. Rangkaian tindakan tersebut dapat dilakukan secara bersamaan apabila pada lokasi kejadian terdapat lebih dari satu penolong, misalnya, penolong pertama memeriksa respons korban kemudian melanjutkan tindakan BHD sedangkan penolong kedua mengaktifkan SPGDT dengan menelepon ambulans terdekat dan mengambil alat kejut jantung otomatis (AED).

 

Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Resusitasi jantung paru terdiri dari penekanan dada dan bantuan napas dengan perbandingan 30:2, berarti 30 kali penekanan dada kemudian dilanjutkan dengan memberikan 2 kali bantuan napas. Bantuan napas diberikan jika penolong yakin melakukannya.
Posisi penekanan dada
Penekanan dada yang efektif dilakukan dengan prinsip tekan kuat, tekan cepat, mengembang sempurna dan interupsi minimal. Untuk memaksimalkan efektivitas penekanan dada, korban harus berada di tempat yang permukaannya rata. Penolong berlutut di samping korban apabila lokasi kejadian di luar rumah sakit atau berdiri di samping korban apabila di rumah sakit. Penolong meletakkan pangkal telapak tangan di tengah dada korban dan meletakkan tangan yang lain di atas tangan yang pertama dengan jari-jari saling mengunci dan lengan tetap lurus.

Penolong memberikan penekanan dada dengan kedalaman minimal 5 cm (prinsip tekan kuat) dengan kecepatan minimal 100 kali permenit (prinsip tekan cepat). Penolong juga harus memberikan waktu bagi dada korban untuk mengembang kembali agar memungkinkan darah terisi terlebih dahulu pada jantung (prinsip mengembang sempurna). Penolong juga harus meminimalisasi interupsi saat melakukan penekanan (prinsip interupsi minimal).
Head Tilt - Chin Lift
Bantuan napas diberikan setelah membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan kepala dan mengangkat dagu (head tilt – chin lift). Setelah itu cuping hidung korban dijepit menggunakan ibu jari dan telunjuk agar tertutup kemudian diberikan napas buatan sebanyak dua kali, masing-masing sekitar 1 detik, buang napas seperti biasa melalui mulut. Napas bantuan diberikan dari mulut ke mulut atau menggunakan pelindung wajah yang diletakkan di wajah korban. Lihat dada korban saat memberikan napas bantuan, apakah dadanya mengembang, kemudian tunggu hingga kembali turun untuk memberikan napas bantuan berikutnya.
Cek pengembangan dada, Look, Listen and Feel
Jika memungkinkan, RJP dilakukan bergantian setiap 2 menit (5 siklus RJP), dengan penolong lain. Penolong melakukan penekanan dada sampai alat kejut jantung otomatis (AED) datang dan siap untuk digunakan atau bantuan dari tenaga kesehatan telah datang.

 

Melakukan Kejut Jantung dengan Alat Kejut Jantung Otomatis AED

Contoh Alat AED
Alat kejut jantung otomatis (AED) merupakan alat yang dapat memberikan kejutan listrik pada korban. Pertama, pasang terlebih dahulu bantalan (pad) alat kejut jantung otomatis pada dada korban sesuai instruksi yang ada pada alat. Setelah dinyalakan, ikuti instruksi dari alat tersebut yaitu jangan menyentuh korban. Jika alat mengidentifikasikan irama jantung yang abnormal dan membutuhkan kejut jantung (berfungsi untuk mengembalikan irama kelistrikan jantung), minta orang-orang agar tidak ada yang menyentuh korban. Lalu penolong menekan tombol kejut jantung pada alat. Lanjutkan penekanan dada segera setelah alat memberikan kejutan listrik pada korban.

 

Posisi Pemulihan

Posisi ini dilakukan jika korban sudah bernapas dengan normal. Posisi ini dilakukan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko tersumbatnya jalan napas dan tersedak. Tidak ada standar baku untuk melakukan posisi pemulihan, yang terpenting adalah korban dimiringkan agar tidak ada tekanan pada dada korban yang bisa mengganggu pernapasan. Namun, rekomendasi posisi pemulihan adalah meletakkan tangan kanan korban ke atas, tekuk kaki kiri korban, kemudian tarik korban sehingga korban miring ke arah kanan dengan lengan di bawah kepala korban.

Posisi Recovery 1


Posisi Recovery 2

Posisi Recovery 3


 
Sumber: Buku Basic Trauma and Basic Cardiac Life Support: 2016, Divisi Emergency Training.




Tidak ada komentar:

ads
Diberdayakan oleh Blogger.